Translate

Senin, 18 November 2013

PERJALANAN KUPU-KUPU RAJA YANG MENAKJUBKAN

Kisah perjalanan migrasi kupu-kupu raja, yang hidup di Kanada bagian tenggara, lebih rumit daripada migrasi burung. Kupu-kupu raja umumnya hidup hanya 5-6 minggu setelah berkembang dari ulat. Dalam setahun terdapat empat generasi kupu-kupu raja. Tiga dari empat generasi kupu-kupu raja hidup di musim semi dan musim panas.
Situasi berubah dengan datangnya musim gugur. Migrasi dimulai pada musim gugur, dan generasi yang bermigrasi akan hidup jauh lebih lama dari generasi lain yang hidup di tahun yang sama. Kupu-kupu raja yang bermigrasi adalah generasi yang keempat.
Hal yang cukup menarik adalah, migrasi dimulai pada malam ekuinoks musim gugur (hari ketika waktu siang dan malam sama panjang). Kupu-kupu yang bermigrasi ke selatan, hidup enam bulan lebih lama dibandingkan ketiga generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan waktu hidup yang lebih lama agar dapat bermigrasi dan kembali lagi.
Kupu-kupu yang terbang ke selatan tidak berpencar setelah melalui garis balik utara (garis lintang utara 23,30) dan meninggalkan udara dingin. Setelah bermigrasi melintasi setengah benua Amerika, jutaan kupu-kupu itu mendiami bagian tengah Meksiko. Di daerah ini jajaran gunung berapi dipenuhi bermacam-macam jenis tumbuhan. Bertempat di ketinggian 3.000 m, tempat ini cukup hangat bagi kupu-kupu. Selama empat bulan, dari Desember hingga Maret, kupu-kupu tidak memakan apa pun. Mereka hanya minum air selama cadangan lemak tubuh mereka masih mencukupi sebagai sumber makanan.

Bunga yang bermekaran di musim semi cukup penting bagi kupu-kupu raja. Setelah empat bulan berpuasa, untuk pertama kalinya di musim semi kupu-kupu mengadakan pesta nektar. Setelah itu, mereka memiliki cadangan energi yang cukup untuk kembali ke Amerika Utara. Selain waktu hidupnya yang dua bulan diperpanjang menjadi delapan bulan, generasi ini tidak berbeda dengan tiga generasi sebelumnya. Mereka kawin di akhir Maret sebelum memulai perjalanannya. Pada saat ekuinoks, kelompok kupu-kupu akan terbang kembali ke Utara. Begitu mereka menyelesaikan perjalanannya dan tiba di Kanada, mereka mati. Namun, sebelum mati, mereka bertelur untuk menghasilkan generasi baru, yang penting bagi kelangsungan spesiesnya.
Generasi yang baru lahir adalah generasi pertama pada tahun tersebut dan hidup selama 1,5 bulan. Generasi ini akan diikuti oleh generasi kedua dan ketiga. Ketika datang generasi keempat, migrasi kembali berulang. Generasi ini akan hidup enam bulan lebih lama daripada generasi sebelumnya, dan rantai ini akan terus berlanjut dengan cara yang sama.

Sistem yang sangat menarik ini menimbulkan banyak pertanyaan: bagaimanakah generasi keempat dari empat generasi kupu-kupu dapat hidup enam bulan lebih lama? Bagaimanakah waktu hidup generasi ini selalu bertepatan dengan musim dingin dan berlangsung selama ini selama beribu-ribu tahun? Bagaimanakah kupu-kupu selalu memulai migrasi pada saat ekuinoks, dan bagaimanakah mereka bisa begitu sensitif terhadap panjang waktu siang dan malam? Apakah mereka menggunakan kalender untuk menentukan saat migrasi?(sumber :www.id.harunyahya.com/Migrasi kupu-kupu Raja)

Minggu, 17 November 2013

FOSIL- FOSIL HIDUP

          Teori evolusionis menyatakan bahwa species mahluk hidup terus berevolusi menjadi species lain. Tetapi ketika kita membandingkan mahluk hidup, dengan fosil fosil mereka, kita lihat bahwa mereka tidak berubah setelah jutaan tahun. Fakta ini adalah bukti yang meruntuhkan teori evolusionis.
          Fosil Capung berusia jutaan tahun, tetap sama dengan capung yang hidup jaman sekarang. Tidak ada yang berubah seperti yang disebutkan sebagai evolusi. Capung tetap sebagai capung yang kita kenal sekarang dan sampai kapanpun. Karena Capung adalah hasil ciptaan dari Sang Pencipta Yang Maha Hebat. Dialah Allah.
          Lebah Madu yang kita kenal sekarang, sama dengan fosil mereka yang berusia jutaan tahun lamanya. Seperti yang anda lihat pada gambar.
         
Fosil Buaya dari Shang Dong Cina berusia 65 juta tahun tetap sama dengan buaya yang kita lihat sekarang.
          Bintang laut yang biasa kita lihat sama dengan fosil mereka yang berusia 490-443 juta tahun silam yang ditemukan di Hefalla, Morocco. (sumber : id.harunyahya.com/keruntuhan teori evolusi dzikra 2004)

Jumat, 15 November 2013

OTA BENGA (Orang Afrika dalam Kerangkeng)

          Setelah Darwin menyatakan bahwa manusia berevolusi dari mahluk hidup yang mirip kera dalam bukunya The Descent of Man, ia kemudian mulai menacari fosil-fosil untuk mendukung argumentasinya. Bagaimanapun, sejumlah evolusionis percaya bahwa mahluk”separo manusia separo kera”tidak hanya ditemukan dalam bentuk fosil, tetapi juga dalam keadaan hidup di berbagai belahan dunia. Di awal abad ke-20 pencarian”mata rantai transisi yang masih hidup” ini menghasilkan kejadian-kejadian yang memilukan, dan yang paling biadab diantaranya adalah menimpa seorang Pigmi(suku di Afrika Tengah dengan tinggi badan rata-rata kurang dari 127 sentimeter) bernama Ota Benga.

           Ota Benga ditangkap pada tahun 1904 oleh seorang peneliti evolusionis di Kongo. Dalam bahasanya Ota Benga berarti teman. Ia memiliki seorang istri dan dua orang anak. Dengan dirantai dan dikurung seperti binatang ia dibawa ke Amerika Serikat. Disana, para ilmuwan evolusionis memamerkannya untuk umum pada Pekan Raya Dunia di St.Louis bersama spesies kera dan memperkenalkannya sebagai”mata rantai transisi terdekat dengan manusia”. Dua tahun kemudian mereka membawanya ke Kebun Binatang Bronx di New York. Ia dipamerkan dalam kelompok”nenek moyang manusia” bersama beberapa simpanse, gorila bernama Dinah, dan orang utan bernama Dohung. Dr. William T. Hornaday seorang evolusionis direktur dari kebun binatang tersebut memberikan sambutan panjang lebar tentang betapa bangganya ia memiliki”bentuk transisi” yang luar biasa ini di kebun binatangnya dan memperlakukan Ota Benga dalam kandang seolah ia seekor binatang. Tidak tahan dengan perlakuan yang diterimanya, Ota Benga akhirnya bunuh diri. (sumber Philip Vemer Bradford, Harvey Blume, Ota Benga : The Pygmy in The Zoo, New York: Delta Books, 1992/ Keruntuhan Teori Evolusi, Harun Yahya hal 54-55:dzkra 2004)

ADA APA DENGAN TEORI EVOLUSI

Sebagian orang yang pernah mendengar teori evolusi atau Darwinisme mungkin beranggapan bahwa konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi dan tidak berpengaruh sedikitpun pada kehidupan sehari-hari. Anggapan ini keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekedar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia.
          Filsafat tersebut adalah materialisme, yang mengandung sejumlah pemikiran penuh kepalsuan tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka bumi. Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu apapun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun yang tidak hidup. Berawal dari pemikiran ini materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Dengan mereduksi segala sesuatu ke tigkat materi, teori ini mengubah manusia enjadi mahluk yang hanya berorientasi kepada materi dan berpaling dari nilai-nilai moral. Ini adalah awal sebuah bencana besar yang akan menimpa hidup manusia.
          Kerusakan ajaran materialism tidak hanya terbatas pada tingkat individu. Ajaran ini juga mengarah untuk meruntuhkan nilai-nilai dasar suatu Negara dan masyarakat. Dan menciptakan sebuah masyarakat tanpa jiwa dan rasa sensitif, yang hanya memperhatikan aspek materi. Anggota masyarakat yang demikian tidak akan memiliki idealism seperti patriotisme, cinta bangsa, keadilan, loyalitas, kejujuran, pengorbanan, kehormatan atau moral yang baik. Sehingga tatanan yang dibangunnya akan hancur dalam waktu singkat. Karena itulah materialisme menjadi salah satu ancaman paling berat terhadap nilai-nilai yang mendasari tatanan politik dan sosial suatu bangsa.
          Satu lagi kejahatan materialisme adalah dukungannya terhadap ideologi-ideologi anarkis dan bersifat memecah belah yang mengancam kelangsungan hidup negara dan bangsa. Komunisme ajaran terdepan diantara ideologi-ideologi ini, merupakan konsekuensi politis alami dari sifat materialisme. Karena komunisme berusaha menghancurkan tatanan sakral seperti keluarga dan negara, ia menjadi ideologi fundamental dari segala bentuk gerakan sparatis yang menolak struktur suatu negara.
          Teori evolusi menjadi semacam landasan ilmiah bagi materialisme, dasar pijakan ideologi komunisme. Dengan merujuk teori evolusi, komunisme berusaha membenarkan diri dan menampilkan ideologinya sebagai suatu yang logis dan benar. Karena itulah Karl Marx, pencetus komunisme menulisakan The Origin of Species, buku Darwin yang mendasari teori evolusi dengan”Inilah buku yang berisi landasan sejarah alam bagi pandangan kami”.
          Namun faktanya, temuan-temuan baru ilmu pengetahuan modern telah membuat teori evolusi, dogma abad ke-19 yang menjadi dasar pijakan segala bentuk ajaran materialis menjadi tidak berlaku lagi, sehingga ajaran ini”utamanya pandangan Karl Marx” benar-benar telah ambruk. Ilmu pengetahuan telah menolak dan akan tetap menolak hipotesis materialis yang tidak mengakui eksistensi apapun kecuali materi. Dan ilmu pengetahuan menunjukan bahwa segala sesuatu yang ada adalah hasil ciptaan sesuatu yang lebih tinggi. (sumber Keruntuhan teori evolusi/Harun Yahya).


Selasa, 12 November 2013

SEKILAS KERATON RATU BOKO

Ratu Boko merupakan sebuah situs arkeologi berupa keraton Kerajaan Mataram kuno dari abad ke-8, cikal bakal pendiri Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Situs ini terletak 2 Km arah selatan Candi Prambanan, 18 Km arah timur kota Yogyakarta dan terletak diatas bukit yang merupakan kelanjutan pegunungan seribu seluas kurang lebih 250.000m2 dengan ketinggian kurang lebih 195.97m.
Sumber Prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 M, kawasan Situs Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, giri berarti bukit, Wihara berarti Asrama. Dengan demikian Abhayagiri Wihara berarti Asrama para Biksu yang terletak di atas bukit penuh kedamaian.
Tahun 1790 Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan diatas bukit Ratu Boko. Seratus tahun kemudian FDK Bosch mengadakan penelitian yang diberi judul “Keraton Van Ratoe Boko”. Maka situs kepurbakalaan ini dikenal dengan nama KERATON RATU BOKO.
Nama Keraton berasal dari kata Ka-DA-Tu-An yang artinya tempat istana raja, Ratu berarti raja, Boko berarti Bangau. Pengertian ini kemudian menimbulkan pertanyaan, siapa yang disebut Raja/ratu Bangau itu, apakah nama seorang penguasa atau nama burung yang sering hinggap di kawasan perbukitan Ratu Boko…

PRASASTI CURUG DAGO

Prasasti Curug Dago berada dalam kawasan hutan lindung dan daerah perbukitan, di Kampung Curug Dago, Desa Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, dengan keletakan geografis pada garis koordinat 107º 37'044" BT dan 06º 51'562"  LS dan daerahnya merupakan dataran tinggi ± 1310 m di atas permukaan air laut.  Dua prasasti terletak ± 10 km di sebelah timurlaut dari pusat kota Bandung, di tebing Sungai Cikapundung tidak jauh dari air terjun Curug Dago dalam kondisi insitu dan utuh. Lokasi prasasti dapat ditempuh melalui Jalan Ir. Juanda/Dago turun di Dago Tea House (Teehuis)/Balai Pengelolaan Taman Budaya  dan dari lokasi itu dilanjutkan dengan berjalan  kaki menuruni tangga beton sampai ke lokasi prasasti. Berita pertama tentang prasasti dengan aksara dan bahasa Thai Curug Dago terdapat dalam Surat Kabar Harian Bandung Pos tanggal 1 Pebruari 1990, dan kemudian di Surat Kabar Harian Kompas, ditulis oleh wartawan  Omas Witarsa.  Selanjutnya tanggal 15 Juli 1990, Omas Witarsa mengirim surat kepada Yang Mulia Ratu Thailand Bhumiphol, yang menerangkan bahwa dengan bantuan dari Kolonel Bancha yang sedang mengikuti sekolah di Lembang membaca kedua prasasti itu, isi tulisan apabila ditranliterasikan dalam huruf latin adalah CO PO RO serta PO RO RO, yang dimaksud adalah raja-raja Thailand yaitu PYM Raja Chulalonkorn dan PYM Raja Paraminthara.  Selanjutnya Negara Thailand meminta agar Negara Indonesia memberikan pengamanan dan pelestarian terhadap peninggalan purbakala. Ditindaklanjuti oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Purbakala, di Serang sebagai UPT Direktur Linbinjarah melaksanakan kegiatan penelitian dan pelestarian terhadap prasasti Curug Dago tanggal 9 – 15 Juli 1991. Penelitian mengungkapkan bahwa ada 2 buah bongkah batu andesit (andezitic boulders).  Prasasti I berukuran 122 x 46 x 56 cm (tebal di atas permukaan tanah), bulat memanjang, tidak ada pengerjaan permukaan batu (natural), guratan tulisan berelief dangkal. Prasasti dalam posisi membujur hampir simetris dengan aliran Sungai Cikapundung, terletak relatif lebih tinggi dari pada keletakan prasasti II. Tulisan terpusat hanya pada satu bidang permukaan batu, tersusun dalam 2 baris, baris atas pahatan inisial sedangkan pada baris bawah adalah nama raja. Jarak prasasti I dan II,  11,70 meter dan keduanya tepat di bibir air sungai  Cikapundung dengan ketinggian ± 2 meter dari muka air sungai.  Prasasti II permukaannya rata terdiri dari bidang-bidang mendatar dan tegak, bulat memanjang, berukuran 202 x 96 x 67 cm, penulisan tidak terpusat,  terdiri dari masing-masing: 1. Bidang tegak pada sisi barat dan selatan, yang sebelah barat inisial satu baris, sedangkan yang selatan dua baris bersusun berisi inisial (baris atas dan inskrpsi nama pada baris bawah). 2. Sementara itu pada bidang lain di sisi barat terdapat  pahatan bintang bersudut 5 dengan lingkaran pada bagian tengah dan gambar segitiga sama kaki. Pada setiap sudut  bintang terdapat  tulisan dekat dengan garis lingkaran. Di luar segi tiga maupun di dalamnya juga terdapat aksara Thai. Secara keseluruhan batu prasasti II meskipun berbentuk bulat (profil longitudinal) memanjang, tetapi berpunggung tinggi (high back), sehingga bidang-bidang tegak (profil literal maupun traversal) cukup luas untuk dapat dipahatkan tulisan, inisial atau bentuk grafis lainnya. Ini berbeda dengan bentuk prasasti I, yang cenderung lebih pipih sehingga bagian permukaan atas yang luas, yang memungkinkan untuk ditulisi. Pahatan bintang beserta isinya (tiga sudut bintang sengaja tidak digambar)   Selain itu masih terdapat bungkahan (boulder) jenis batuan  yang sama yang terletak di antara prasasti I dan II, namun karena keadaan topografi medan observasi yang berkontur tajam, tak memungkinkan dapat dibuatnya dokumen foto horizontal yang cukup luas yang memungkinkan dapat merekam kedua prasasti dalam konteks yang lebih luas.  Mengenai morfologi  tulisan pada kedua prasasti tersebut  adalah alpabet Thai, yang berkembang berkat jasa seorang raja Sukhotai: Raam Kham Heng  seperti termuat dalam prasasti berangka tahun 1284 M, yang kemudian diikuti oleh beberapa raja untuk menyederhanakannya. Menurut  S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland (1922, Gids Van Bandoeng En Omstrcken) kedua temuan prasasti tersebut erat kaitannya dengan kunjungan keluarga Kerajaan Siam (Tailand) ke Bandung, yakni Raja Chulalongkorn serta Pangeran Prajatthipok Paramintara, yang masing-masing merupakan raja ke V dan VII dari Dinasti Chakri.    Agama Buddha sekte Theravada merupakan agama terbesar di Thailand yang memliki kedudukan utama sebagai dasar kepercayaan dalam kehidupan rakyat Thailand. Agama ini muncul sebagai tradisi agama/kepercayaan sejak  awal abad Masehi. Dhyani Buddha dari Borobudur merupakan hadiah Raja Rama V (melalui perbuatan baik atau tham-bun) kepada rakyatnya, dalam rangka upacara kenegaraan memperingati hari raya Buddha yang dihadiri oleh beratus pendeta dan rakyat. Dengan demikian, maka tujuan penulisan kedua prasasti di Curug Dago yang memuat nama kedua nama raja dan pangeran itu menjadi jelas yaitu merupakan penghormatan terhadap ke dua tokoh tersebut, lengkap dengan penulisan inisial, angka tahun serta catatan usia kedua tokoh. Memang ada tradisi yang menyatakan bahwa pada umumnya apabila seseorang raja Thai menemukan tempat panorama yang indah, maka biasanya di tempat tersebut sang raja melakukan semadhi dan kadangkala menuliskan nama atau hal lainnya yang dianggap penting. Sekaligus merupakan kenangan dan pengakuan atas kekeramatan/kesucian tempat tersebut, seperti diungkapkan oleh seorang Bhiksu Pravithamtor dari Vihara Menteng Jakarta Pusat. Mengenai tempat prasasti, dapat dianggap sebagai sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, yakni  pada tempat-tempat yang dianggap keramat atau disucikan, yang dapat berbentuk dataran di tepi sungai atau diapit dua sungai, di atas bukit, di lereng atau di puncak gunung atau bahkan pada tempat datar yang ditinggikan. Kedua prasasti Curug Dago terletak di tebing sungai Cikapundung. Dilihat dari segi penempatannya atau lokasi keletakkannya, apabila kedua prasasti tersebut memang dibuat dalam rangka kunjungan Raja Tai dan rombongan pada tahun 1896, tentu pada waktu itu jalan menuju ke Curug Dago amatlah sulit dan nyaris mustahil untuk dilakukan oleh elite kerajaan apalagi dari luar negeri (mancanegara).   Objek budaya Prasasti Curug Dago berada di bawah Air Terjun (Curug) Dago yang telah dikembangkan sebagai salah satu objek wsiata pada kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda yang dikelola oleh Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H.Juanda, Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Lokasi Prasasti Curug dago menempati salah satu area sebelah selatan dari Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, dan telah memiliki lahan parkir kendaraan roda dua dan shelter  para pengunjung sebelum dan sesudah mengunjungi objek Prasasti Curug Dago dan Air Terjun (Curug) Dago. Untuk pengunjung berkendaraan roda 4 dapat diparkirkan di Komplek Taman Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat yang berjarak ± 1,2 km dari lokasi objek. Alamat: Air terjun Dago, Kampung Curug Dago, Desa Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap Koordinat : 6°51'56.17"S, 107°37'4.93"E Telepon: Email: Internet: Arah: ± 10 km di sebelah timurlaut dari pusat kota Bandung, di tebing Sungai Cikapundung tidak jauh dari air terjun Curug Dago Fasilitas: lahan parkir kendaraan roda dua dan shelter  para pengunjung.